Mediatrend.id – INDRAMAYU – Fenomena El Nino diprediksi akan memberikan dampak signifikan terhadap kondisi cuaca di Indonesia pada paruh kedua tahun ini.
Hal tersebut dibahas dalam kegiatan Ekspedisi dan FGD Dampak Krisis Iklim “Pemanfaatan Data dan Informasi Panas Ekstrem dan Dampaknya pada Kesehatan Komunitas Petani dan Nelayan di Indramayu” yang diselenggarakan oleh LaporIklim bersama Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) di Indramayu.
Koordinator Bidang Informasi Iklim Terapan BMKG, Siswanto, mengungkapkan bahwa El Nino menjadi faktor pemicu utama terjadinya lonjakan suhu panas yang ekstrem.
“Berdasarkan data-data historis, memang El Nino itu salah satunya adalah faktor pemicu terjadinya suhu atau panas ekstrem ya, baik itu secara global maupun secara regional. Untuk rata-rata suhu se-Indonesia saja itu biasanya lonjakannya itu ada pada tahun-tahun El Nino,” jelas Siswanto saat ditemui usai kegiatan FGD Dampak Krisis Iklim di Indramayu. Jumat 24 April 2026.
Terkait prediksi kekuatan fenomena tahun ini, Siswanto menjelaskan bahwa peluang terjadinya penguatan cukup besar pada periode Juni hingga November 2026.
“Berdasarkan rilis data, terdapat peluang bahwa potensi terjadinya El Nino kuat itu sampai 51% terjadi mulai Juni hingga November. Kemungkinan setelah November nanti El Nino akan mengalami peluruhan, jadi tidak nyeberang tahun sebagaimana tahun 2015 atau 1997,” tambahnya.
Meskipun intensitasnya diperkirakan tidak sedahsyat tahun 1997 atau 2015, masyarakat tetap diminta waspada karena kondisi kemarau kali ini akan terasa lebih kering dibandingkan tahun lalu.
Dampak yang paling nyata akan dirasakan pada sektor pertanian, terutama terkait ketersediaan air irigasi.
“Analisis BMKG terbaru, tahun ini kemungkinannya ketika El Nino menguat di semester kedua, itu akan lebih kering daripada tahun 2023. Yang kita khawatirkan adalah ketika musim kemarau yang kering itu nanti men-generate keringnya waduk-waduk juga, yang itu menjadi sistem penopang utama dari irigasi,” tutur Siswanto.
Ia juga memperingatkan risiko bagi tanaman yang membutuhkan banyak air.
“Tentu ini akan memiliki potensi terjadi gagal panen ataupun juga puso, artinya mati sebelum tumbuh dan panen,” jelasnya.
Khusus untuk wilayah Indramayu yang merupakan daerah irigasi, Siswanto menyarankan para petani untuk segera melakukan langkah-langkah antisipasi selagi sisa curah hujan masih tersedia.
“Rekomendasi kami di masa-masa sekarang mumpung masih ada hujan itu adalah gerakan memanen air hujan. Dulu di sawah itu selalu ada kolam air yang namanya blumbang atau embung, itu sebenarnya efektif sehingga sawah ada bagian untuk menyimpan air,” katanya.
Selain manajemen air, pemilihan jenis tanaman juga menjadi kunci keberhasilan panen di tengah ancaman El Nino.
“Para petani bisa memilih varietas atau jenis benih yang genjah, yang durasi panennya itu pendek dan lebih irit air. Kemudian di wilayah yang airnya terbatas, pilihan padi gogo atau padi ladang juga menjadi pilihan. Terus jangan nunggu musim yang biasanya, kalau bisa ditanam lebih cepat saat ini mumpung masih ada air,” pungkasnya.
Diketahui, LaporIklim adalah gerakan yang dilahirkan dari keprihatinan terhadap ketidakadilan dan pengabaian hak asasi manusia dalam aspek perubahan iklim.
Bersama dalam naungan Warga Berdaya yang fokus pada hak hidup sehat bagi masyarakat, kami mengajak Anda untuk berpartisipasi dalam melaporkan permasalahan lingkungan yang berhubungan dengan dampak perubahan iklim.












