Berita  

Batik Complongan Indramayu, Warisan Unik yang Kembali Bersinar di Era Modern

Proses pencomplongan pada kain batik yang menjadi salah satu ciri khas batik complongan Indramayu. (FOTO : OKRI RIYANA/MEDIATREND.ID)

Mediatrend.id – INDRAMAYU – Batik Complongan, salah satu warisan budaya khas Indramayu, kembali menunjukkan eksistensinya setelah ditetapkan sebagai produk berindikasi geografis pada tahun 2022.

Pengusaha batik sekaligus pelaku usaha lokal, Indra Susilo, mengungkapkan bahwa penetapan tersebut menjadi titik balik kebangkitan batik complongan di pasaran.

“Sejak ditetapkannya batik complongan sebagai indikasi geografis, penjualannya meningkat signifikan. Sertifikat itu sangat membantu karena membuktikan kualitas, karakteristik, dan ciri khasnya yang teruji,” ujar saat ditemui di galeri Batik Indra di Indramayu.

Indra Susilo saat menunjukan Sertifikat Indikasi Geografis. (FOTO : OKRI RIYANA/MEDIATREND.ID)

Ia menambahkan, perkembangan batik complongan sempat mencapai puncaknya pada 2023 saat Gebyar Batik Nasional (GBN) diselenggarakan.

“Waktu itu penjualan luar biasa, stok 40–50 lembar batik habis di pameran. Sejak itu minat terhadap complongan terus tumbuh,” pungkasnya.

Melalui program pembinaan Usaha Mikro, kecil, dan Menengah (UMKM) Pertamina Refinery Unit (RU) VI Balongan berkomitmen mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Salah satunya Batik Indra yang, pengrajin batik khas Indramayu yang kini berkembang pesat berkat pendampingan berkelanjutan yang dilakukan oleh Pertamina RU VI Balongan.

Area Manager Communication, Relation & CSR RU VI Balongan, Mohamad Zulkifli, menjelaskan bahwa Batik Indra merupakan salah satu pelaku usaha yang telah lama menjadi binaan Pertamina melalui program PKBL (Program Kemitraan dan Bina Lingkungan).

“Awalnya Batik Indra ini usaha kecil. Mereka punya keahlian membuat batik, tapi terkendala modal dan penanganan pasca produksi seperti desain, pemasaran, dan pengemasan. Dari situlah kami hadir memberikan bantuan modal, pelatihan, hingga pembinaan lanjutan,” ujar Zulkifli.

Eha Soleha saat menyiapkan baju batik untuk dikirim kepada konsumen. (FOTO : OKRI RIYANA/MEDIATREND.ID)

Ciri khas utama batik complongan sendiri terletak pada proses pembuatan motifnya yang dilakukan dengan melubangi kain menggunakan jarum sebelum proses pewarnaan.

Lubang-lubang kecil tersebut menghasilkan pola titik-titik yang menjadi identitas batik ini. Hal ini dilakukan agar pewarna yang dihasilkan dari alam dapat menyerap dengan baik dan unik.

Seiring waktu, proses manual dengan jarum itu berkembang menjadi teknik “complongan” dengan alat sederhana, tanpa menghilangkan nilai artistik dan keasliannya.

Ibu Ratinah, salah satu pengrajin batik complongan sedang melubangi kain dengan menggunakan deretan jarum, dikawasan jl. Terusan, Indramayu, Jumat 29 Agustus 2025. (FOTO ; OKRI RIYANA/MEDIATREND)

Hingga kini, Indramayu telah memiliki ratusan motif batik, dengan sekitar 50 di antaranya sudah terdaftar hak cipta. Motif-motif tersebut menggambarkan kekayaan alam, budaya, hingga kehidupan pesisir masyarakat Indramayu.

Salah satunya motif ikan etong yang terkenal sampai luar negeri. Bahkan orang Jepang menyebutnya motif sakana. Salah satu motif terbaru yang mencuri perhatian adalah Sawat Riwog, yang menggambarkan biota laut dan karang di Indramayu.

Batik complongan bukan sekadar kain, melainkan identitas budaya dan kebanggaan masyarakat Indramayu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *